Tahapan Belajar

Di berbagai forum dan komunitas, sering kita temui pertanyaan seperti ini


Sayangnya, tidak ada jalan pintas kalau mau mahir. Menurut Peter Norvig, butuh 10 tahun untuk menjadi mahir dalam pemrograman. Kenal Mozart? Dia sudah terdeteksi sebagai jenius dalam bidang musik pada umur 4 tahun. Tapi dia baru menghasilkan karya kelas dunia 13 tahun kemudian. Kalau bakat saja cukup, tentu Mozart sudah menjadi terkenal bahkan sebelum lulus TK 😉

Malcolm Gladwell dalam bukunya Outliers mengutip penelitian yang dilakukan terhadap siswa sekolah musik sejak mereka berusia 5 tahun sampai usia 20 tahun. Siswa yang menjadi maestro di usia 20 tahun ternyata berlatih lebih giat daripada sisanya. Para maestro ini sudah membukukan 10.000 jam berlatih, sedangkan siswa yang permainannya baik membukukan 8.000 jam. Dan siswa yang biasa-biasa saja hanya mengantongi 4.000 jam latihan.

Maestro fotografi dunia, Henri Cartier-Bresson mengatakan,

Your first 10,000 photographs are your worst

Artinya, latihan dulu 10.000 kali jepret kalau mau bikin foto seperti ini

© Henri Cartier-Bresson / Magnum Photos

Jadi kalau Anda merasa bingung, pusing, mentok pada saat belajar, jangan khawatir. Mungkin memang Anda sedang berada di fase bingung.

Lho memangnya ada fase bingung?

Ya tentu ada. Semua expert juga tadinya bingung, sebelum dia menjadi expert. Pada artikel ini kita akan bahas tahapan belajar dari nol sampai mahir, atau lebih dikenal dengan Dreyfus Model. Mudah-mudahan setelah membaca ini, orang-orang bingung tidak menjadi putus harapan.

Di akhir artikel, kita juga akan bahas korelasinya dengan perkembangan karir. Pada tahap mana kita bisa dipekerjakan dan berapa kompensasi yang kita bisa dapatkan.

Tahapan Belajar

Menurut Dreyfus, ada lima tingkat dalam mengukur kemahiran seseorang, yaitu:

  1. Novice (pemula)
  2. Competent (mampu)
  3. Proficient (mahir)
  4. Expert (ahli)
  5. Master

Sedangkan orang Jepang lebih sederhana, tahapannya cuma tiga:

  1. Shu (mematuhi)
  2. Ha (melepaskan)
  3. Ri (meninggalkan)

Kedua model ini dihasilkan melalui pengamatan dan penelitian terhadap orang yang mengikuti pendidikan dan pelatihan yang terstruktur, misalnya tenaga medis, beladiri, pilot, dan sebagainya.

Lalu bagaimana kalau kita belajar otodidak?

Nah, berdasarkan pengalaman saya (bukan berdasarkan penelitian ilmiah seperti Dreyfus), ada empat tahap:

  1. Tidak tahu apa-apa
  2. Pemula
  3. Mahir
  4. Ahli

Mari kita bahas apa yang terjadi di tiap tahap dan apa yang harus dilakukan untuk bisa naik tingkat. Sebagai ilustrasi, saya akan contohkan dalam dua bidang yang saya pelajari secara otodidak, yaitu pemrograman dan fotografi.

Tidak tahu apa-apa

Ini adalah tahap nol. Dalam hal pemrograman, di tahap ini kita bahkan tidak tahu bahwa komputer ternyata bisa disuruh sesuai keinginan kita. Apalagi pengetahuan bahwa ada banyak sekali bahasa pemrograman yang tersedia. Itu kita tidak tahu.

Di bidang fotografi, pada tahap ini kita cukup mengerti bagaimana cara memotret dengan handphone. Kita juga bisa pakai kamera SLR, asal diset ke mode Auto dan diberi tahu tombol mana yang harus ditekan 😉

Pada tahap ini, yang harus kita lakukan adalah banyak-banyak membaca artikel di internet. Tujuannya, kita ingin bisa paham apa istilah dan jargon yang biasa dipakai orang di bidang yang ingin kita pelajari.

Untuk pemrograman, istilah yang harus dipahami antara lain:

  • apa itu hello world
  • apa itu compiler
  • apa itu classpath
  • apa itu looping, branch
  • apa itu IDE
  • variabel
  • function, method, class

Di bidang fotografi:

  • exposure, overexposed, underexposed
  • shutter, cara kerja shutter, shutter speed
  • aperture
  • ISO
  • metering dan cara kerjanya

Tidak perlu khawatir kalau banyak istilah yang belum dipahami. Jangan juga sedih kalau merasa bingung. Memang sudah sewajarnya di tahap ini kita bingung. Itu sebabnya tahapan ini saya sebut tidak tahu apa-apa. Tujuan dari tahap ini adalah memiliki cukup pengetahuan untuk bisa memahami apa yang dibicarakan/didiskusikan/dijelaskan orang. Jadi kalau ada yang bertanya dan diskusi di forum kita bisa paham apa yang dibicarakan. Demikian juga kalau ada artikel yang menjelaskan sesuatu, kita bisa mencerna apa yang disampaikan.

Di tahap ini, kita juga tidak perlu khawatir kalau belum bisa melakukan. Bikin program error terus, tidak masalah. Motret terlalu gelap, terlalu terang, buram/goyang, tidak perlu galau.

Setelah sudah cukup kenyang membaca, barulah kita masuk ke tahap selanjutnya.

Pemula

Di tahap ini, fokus kita adalah belajar dan berlatih. Tidak cukup hanya membaca saja seperti di tahap sebelumnya, sebagai pemula kita harus banyak berlatih. Pada tahap ini kita akan banyak belajar teknik dan aturan (rule).

Dalam pemrograman, kita akan belajar teknik:

Kita juga akan mempelajari berbagai rule seperti:

  • aturan penamaan class, method, variabel
  • aturan pembuatan method equals dan hashCode
  • deklarasi variabel di scope sekecil mungkin
  • dan berbagai aturan lain yang bisa dibaca di sini

Dalam fotografi, kita akan belajar:

Kita juga akan mempelajari berbagai rule seperti:

Awas jebakan di forum !!

Kalau kita mengikuti berbagai forum di internet, akan ada saja orang yang smarta$$ seperti ini

Tidak perlu rule, yang penting fotonya bagus

atau tipe pemberontak

Rule dibuat untuk dilanggar

tipe pemalas

Pusing gan banyak bener aturannya

bawa bekingan

Katanya Arbain Rambey (Darwis Triadi, Linus Torvalds, dan nama-nama top lainnya), tidak perlu mengikuti rule ini-itu. Pokoknya ikuti perasaan aja.

bekingnya bukan orang, satu perusahaan dibawa-bawa

Facebook saja datanya duplikasi tidak apa-apa. Google saja pakai Python, kenapa saya tidak boleh?

Nah terhadap saran-saran anti-rule seperti ini pesan saya sederhana saja.

Mohon tahu diri. Di mana level kita, di mana level mereka.

Pada level Pemula, kita harusnya mencari tahu rule dan aturan, kemudian menjalankannya. Setelah kita jalankan berkali-kali, mudah-mudahan kita akan mendapat pencerahan kenapa rule tersebut ada. Apa alasan yang mendasarinya, pada situasi apa dia tepat, apa akibatnya kalau dilanggar, dan sebagainya. Biasanya pencerahan ini baru didapatkan di level Ahli. Jadi kalau kita masih di level Pemula, jangan sotoy dan keminter melanggar aturan.

Di jaman serba internet ini, kita juga bisa menyaksikan para Ahli beraksi. Di TV, Youtube, Vimeo, dan berbagai media lainnya. Misalnya, kita menonton Gordon Ramsay beraksi. Tambahkan garam sedikit, kecap asin secukupnya, tunggu hingga matang. Perhatikan bahwa tidak ada ukuran kuantitatif yang jelas di situ. Sedikit itu berapa? Kapan bisa dibilang cukup? Nah ini jangan ditiru. Di tahap pemula, kalau disuruh garam satu sendok teh ya kita patuhi. Kalau dicontohkan kecap asin 10ml ya kita ikuti dengan persis.

Di tahap ini kita juga tidak perlu bersikeras untuk memahami semua rule. Kenapa begitu? Karena untuk memahami alasan di balik aturan-aturan tersebut, kita membutuhkan pengalaman dan jam terbang tinggi. Jadi fokus saja pada apa yang bisa dilakukan, yaitu memperkaya pengalaman dan mengoleksi teknik dan rule. Semakin banyak koleksi teknik dan rule, semakin dekat kita ke tahap Mahir.

Mahir

Pada tingkat Mahir, kita sudah menguasai banyak teknik di luar kepala. Untuk menyelesaikan tugas tertentu, kita tidak perlu lagi buka catatan, search internet, trial-and-error, dan bingung. Sebagai contoh, bila kita mendapatkan tugas membuat perhitungan gaji, kita tahu bahwa kita harus menggunakan beberapa teknik:

  • membaca file
  • memisahkan string berdasarkan koma
  • menggunakan if/else untuk mencari faktor pengali
  • menggunakan looping untuk memproses semua data
  • menulis file

Kita juga tahu bahwa ada aturan yang harus diikuti yaitu:

  • pisahkan kode program untuk baca/tulis dengan kode program untuk melakukan perhitungan
  • log setiap error dengan informasi yang cukup

Contohnya di dunia fotografi, kita secara dengan cepat bisa mengenali situasi dynamic range yang terlalu tinggi. Dan bisa mengatasinya entah denganteknik metering yang sesuai, ataupun kompresi dynamic range. Bila subjeknya wanita paruh baya, langsung kita keluarkan softbox (untuk menghilangkan kerutan wajah) dan memposisikan dia menyerong atau di balik pohon (supaya terlihat langsing).

Di tahap ini, kita sudah bisa bekerja dengan cepat, karena tidak perlu berpikir lagi untuk mengeksekusi teknik-teknik yang sudah dikuasai. Oleh sebab itu, sudah waktunya kita menganalisa situasi, membandingkan rule/teknik dengan situasi, dan melihat gambaran besar (big picture).

Untuk programmer, dia menganalisa bagaimana antar komponen saling berhubungan. Apa kelebihan dan kekurangan menghubungkan aplikasi secara sinkron atau asinkron. Kapan memilih teknologi tertentu, dan apa pertimbangannya?

Untuk fotografer, dia sudah tidak dipusingkan lagi dengan foto terlalu terang atau kurang terang. Dia bisa menganalisa efek apa yang ditimbulkan dari pemakaian teknik low-key dibandingkan teknik high-key. Bagaimana cara membuat suatu tempat terkesan luas atau sempit.

Semakin sering menganalisa dan semakin banyak pemahaman terhadap prinsip, rule, dan hubungan teknik – situasi – hasil, maka akan semakin dekat seseorang ke tahap Ahli.

Ahli

Dreyfus menggambarkan seorang Ahli sebagai berikut

Now his repertoire of experienced situations is so vast that normally each specific situation immediately dictates an intuitively appropriate action

Terjemahan bebasnya kira-kira begini

Sekarang, koleksi pengalamannya sudah sangat banyak sehingga dia bisa menentukan secara intuitif tindakan yang tepat untuk setiap situasi yang ditemui

Ada dua hal yang penting dari definisi di atas, yaitu:

  1. koleksi pengalaman sangat banyak
  2. intuitif

Perhatikan bahwa poin 1 tidak dapat diperoleh secara instan. Perhatikan juga bahwa poin 2 hanya bisa didapatkan melalui poin 1. Jadi kalau kita melihat Gordon Ramsay atau Darwis Triadi beraksi, jangan heran kalau dia seperti tidak memusingkan berapa sendok garam yang harus dimasukkan, atau berapa kombinasi shutter/aperture/ISO yang dia gunakan.

Untuk melihat Darwis Triadi beraksi, silahkan tonton episode Mata Lensa di Youtube.

Perlu juga diperhatikan bahwa tidak semua Ahli pandai mengajar atau menjelaskan sesuatu. Jadi jangan heran bila kita mendengar/membaca seorang Ahli menjawab pertanyaan seperti ini:

Tugasnya seorang fotografer adalah menangkap momen, angle, dan framing. Itu yang paling penting, karena teknis begitu gampang.

Yang dia maksud adalah urusan teknis seperti setting exposure sudah seperti bernafas bagi dia, gak pake mikir sudah langsung pas. Jadi dia tinggal berfokus pada momen yang ingin ditangkap.

Pemula sotoy biasanya mengartikan seperti ini:

momen lebih penting daripada exposure, jadi tidak perlu repot belajar/memusingkan exposure

atau

foto overexposed/underexposed gapapa, yang penting momen bagus

Padahal kalo dia perhatikan hasil karya si Ahli, momen dapat exposure tepat. Kalaupun over/under maka itu disengaja untuk mendapatkan efek tertentu. Bukan karena tidak paham ataupun tidak mampu.

Programmer Ahli, yang tidak pandai menjelaskan, sering berkata seperti ini

ERD/UML tidak perlu, yang penting aplikasinya jalan

atau

Setelah requirement jelas ya langsung coding aja. Buat apa nulis-nulis dokumen

Yang dia maksud adalah:

  • mendesain skema database buat dia sudah seperti kegiatan mandi. Tidak perlu lagi dijelaskan bahwa sebelum sabunan harus buka baju dulu.
  • dari requirement, dia sudah bisa membayangkan skema database di kepalanya. Kemudian dari bayangan tersebut dia bisa langsung menuliskannya menjadi kode program
  • bila di requirement selanjutnya ada yang tidak cocok, dia bisa langsung mengidentifikasi bagian mana yang harus diubah

Nah bagaimana kalau kita masih pemula? Ya jangan coba-coba live coding langsung dari requirement. Dijamin pusing, dan setelah beberapa jam akan bingung mana ujung pangkal dari kode program yang ditulis. Ibaratnya anak umur 6 bulan mau langsung naik motor kopling.

Intinya, gak ada yang instan. Pertamanya pasti pusing, bingung, kaku, banyak error dulu. Ada banyak tahap yang harus dilalui sampai menjadi Ahli.

Pengajar

Lho katanya tadi cuma ada 4 level, kenapa ini ada level 5?

Sebenarnya ini bukan level setelah Ahli, tapi merupakan keahlian khusus yang belum tentu dimiliki semua orang. Bahkan walaupun dia seorang Ahli.

Apakah Anda menggunakan kendaraan setiap hari? Sepeda gowes, sepeda motor, atau mobil?

Kalau iya, berarti Anda adalah seorang Ahli mengendarai sepeda/motor/mobil. Coba ingat-ingat kali terakhir Anda berkendara. Berapa kali buka gas? Berapa kali menyalakan lampu sen? Berapa kali klakson?

Waktu ada orang menyeberang sembarangan, apakah Anda mikir dulu dimana klakson? Pasti tidak. Biasanya ya langsung klakson sambil teriak, “Wooiii … !!!”. Yang naik mobil bahkan sempat-sempatnya buka kaca segala, yang naik motor mengacungkan tinju kiri. Tentu itu semua (klakson, woi, buka kaca) dilakukan sambil injak rem dan oper ke gigi yang lebih rendah.

Sekian banyak aktivitas, tanpa berpikir, dilakukan dalam sepersekian detik. Ini adalah hasil dari pengalaman ribuan jam terbang.

Nah sekarang misalnya ada yang tanya

Gan, ajarin ane naik motor dong.

Coba bayangkan berapa banyak pengetahuan, aturan, teknik, kombinasi situasi-tindakan yang harus ditransfer ke penanya. Apakah Anda bisa menyampaikannya dalam urutan yang sistematis dan mudah dipahami? Bagaimana dengan urutan latihan, mana dulu yang harus dilatih? Lampu sen dulu atau menggunakan rem? Apa bedanya rem depan sama rem belakang? Kapan harus pakai rem depan, kapan harus rem belakang? Berhenti di tanjakan gimana?

Seorang pengajar bisa merekonstruksi pengalaman dia selama belajar dulu dan kemudian bisa menyampaikannya dengan metode yang bisa dipahami orang yang belajar. Semakin baik seorang pengajar, semakin banyak metode yang bisa dia ciptakan untuk mengajarkan satu masalah yang sama. Dengan demikian, dia bisa mengajarkan pengetahuannya kepada orang dari berbagai latar belakang.

Kenapa seorang Ahli belum tentu bisa mengajar?

Ingat penjelasan di atas, seorang Ahli melakukan segala sesuatu menggunakan intuisi. Dia tidak lagi berpatokan pada aturan-aturan baku yang digunakan oleh Pemula dan Mahir. Dia bertindak secara refleks tanpa berpikir. Di film The Last Samurai, disebut dengan istilah no mind. Sama seperti kita mengendarai motor atau mobil.

Karena semua dilakukan tanpa berpikir, maka belum tentu dia bisa menceritakan apa yang baru saja dia kerjakan. Sebagai ilustrasi, pernahkah Anda mengendarai motor/mobil sambil memikirkan sesuatu? Entah pekerjaan kantor, mau makan siang dimana, rute mana yang tidak macet, dan sebagainya. Tanpa disadari, kita sudah sampai di tujuan. Coba Anda ingat lagi, tadi waktu berangkat, di lampu merah X (isi dengan lampu merah yang biasa dilalui) apakah Anda mendapat lampu merah atau hijau? Kalau tidak ada kejadian khusus, biasanya kita tidak ingat.

Dengan demikian, menjelaskan sesuatu hal yang sudah sangat lancar kita lakukan bukanlah sesuatu yang mudah. Belum lagi kesabaran yang dibutuhkan untuk menghadapi seorang yang levelnya pemula atau bahkan tidak tahu apa-apa. Sesuatu yang menurut kita mudah sekali, bisa menjadi sesuatu yang sangat sulit bagi pemula. Tidak percaya? Coba ajari orang lain dan perhatikan berapa kali terlintas di benak kita atau mungkin sampai terucap kata-kata

Gini doang kan gampang. Masa gitu aja gak bisa?

Nah, kalau sampai seperti itu, tiba saatnya kita introspeksi. Tinjau kembali metode penyampaian. Mungkin bahasa yang dipakai tidak cocok dengan targetnya. Coba gunakan analogi yang sesuai dengan latar belakangnya.

Ok, kita sudah bahas tahapan belajar. Lalu kapan saya bisa bekerja?

Karir

Semua perusahaan yang mempekerjakan karyawan, pasti ingin mendapatkan hasil pekerjaan karyawan tersebut. Oleh karena itu, secara hitungan ekonomis, perusahaan hanya ingin mempekerjakan tingkat Mahir dan Ahli.

Wah saya levelnya tidak tahu apa-apa, paling bagus Pemula. Gak bisa ngelamar kerja dong??

Ya kecil kemungkinannya diterima. Sebetulnya karyawan Pemula merupakan beban bagi karyawan lain, karena harus diajari dan diawasi secara ketat. Yang mengajari tentu juga punya kerjaan lain yang harus dia selesaikan. Kalau tidak diajari gak bakalan selesai. Kalau tidak diawasi takutnya malah bikin rusak.

Beberapa perusahaan ada yang mau menerima Pemula, karena satu dan lain hal, diantaranya:

  • karyawannya mau dibayar murah
  • ownernya baik hati dan mau repot
  • tidak ada pilihan lain

Jadi kalau Anda merasa Pemula dan diterima kerja, ya jangan banyak mengeluh. Manfaatkan saja kesempatan sebaik mungkin sehingga menjadi Mahir. Setelah Mahir, baru memikirkan kelayakan kompensasi.

Bagaimana kalau tidak kunjung diterima kerja?

Jaman sekarang ini jaman serba mudah. Di internet banyak sekali materi pelajaran gratis. Selain itu, banyak forum diskusi yang di dalamnya banyak orang Ahli dan Mahir. Ada forum fotografi dimana kita bisa posting hasil foto dan minta kritik/saran. Ada forum programmer dimana kita bisa tanya dan paste pesan error.

Selanjutnya tinggal pintar-pintar kita memanfaatkan waktu untuk belajar dan berlatih.

Toh berlatih sendiri kan gratis. Musuhnya cuma satu: malas.

Advertisements